Saya yakin setelah membaca judul artikel di atas, pasti muncul di benak Anda sesuatu yang bersifat paradoksal.

Ya, sepenuhnya Anda tidak salah. Sebab dunia musik rock identik dengan hal-hal liar, memberontak, penggunaan obat terlarang, minuman keras, hingga gaya hidup bebas.

Membandingkan antara mimbar dakwah yang teduh dengan panggung musik rock yang hingar-bingar bak membuat komparasi antara surga dan neraka. Seekstrem itukah? Tidak juga.

Sebab sesuatu yang terlanjur dicap negatif, tidak selamanya destruktif. Ibarat kata, saat mengarungi sebuah lorong panjang nan berliku penuh gelap gulita, pasti di ujungnya akan bersinar secercah cahaya. Di situlah akan muncul hidayah.

*

Kisah ini bermula ketika saya dan teman-teman dari Remaja Masjid Agung Al-Muttaqien Ternate merevitalisasi sebuah radio siaran milik masjid yang berada di tengah kota bersejarah itu. Namanya Radio Amatir Hikmah.

Setelah mati suri sekitar seperempat abad. Pada 23 Juli 1994 kembali bersiaran dengan nama Gema Hikmah FM. Selain dakwah, radio ini juga menyiarkan aneka lagu. Dari berbagai genre musik. Kala itu Gema Hikmah FM sangat populer di lintas usia warga kota dan menjadi acuan sebab radio ini disupport oleh UNESCO.

Suatu saat saya berkenalan dengan seorang khatib yang sering khutbah Jumat di masjid itu. Namanya Kapten (CPM) Fadli, Komandan Sub Detasemen Polisi Militer di Kota Ternate.

Beliau lalu mengajak saya kerja sama untuk memeriahkan HUT Polisi Militer ke-60 pada 2006. Berbeda dengan instansi lain saat rayakan harlahnya menghadirkan artis penyanyi. Yang diundang adalah Ustad Arifin Ilham, pemimpin Majelis Taklim Az-Zikra. Kala itu ustad ini sangat populer, hingga ke negara tetangga.

Alhamdulillah, setelah isya acara zikir akbar dikumandangkan di Gelora Kie Raha, Ternate dan dibanjiri kaum muslimin dari berbagai wilayah di Maluku Utara. Semua serba putih sambil menggelar sajadah di atas rumput lapangan sepak bola yang sengaja diminimalisir cahaya lampu. Kala itu turut hadir Wakil Gubernur Maluku Utara, Profesor Madjid Abdullah.

*

Beberapa bulan kemudian Kapten (CPM) Fadli memberi kabar mengejutkan. Gito Rollies akan berkunjung ke Ternate. Namun dalam misi berbeda. Bukan konser musik rock. Vocalis grup band The Rollies itu akan berdakwah di beberapa masjid di Kota Ternate.

Kami berdua pun mendampingi pria yang bernama lengkap Bangun Sugito Tukiman bersafari dakwah. Saya lebih nyaman menyapa pria kelahiran Biak, 1 November 1947 itu dengan sapaan Ustad Gito.

Setelah berdakwah di Masjid Agung Al-Muttaqien, saya mengajak Gito untuk mengisi acara talkshow di Radio Gema Hikmah FM yang saat itu sudah pindah bersiaran di Kelurahan Santiong.

Pria yang dijuluki sebagai "James Brown" Indonesia ini setuju dengan "catatan". Julukan ini diberikan pada era 70an berkat vokal suaranya yang khas serta aksi panggungnya yang sangat energik saat membawakan lagu-lagu milik James Brown, sang Godfather of Soul and Funk.

Permintaannya sederhana. Host maupun pendengar tak boleh "mendaulat" dirinya bernyanyi. Apalagi bertanya tentang masa lalunya yang hitam dan kelam. Ia hanya ingin berdakwah. Masa lalunya yang kacau-balau telah ia kubur dalam-dalam.

Saat remaja usai dirinya dinyatakan lulus SMA, dengan gaya binal tanpa busana Gito berkendara motor di tengah udara dingin Kota Bandung.

Gaya hedonnya kian menjadi-jadi saat tampil di pentas konser. Narkoba dan minuman keras menjadi pelengkap untuk menambah rasa percaya diri. 

*

Dalam hidup seiring usia bertambah ada sesuatu yang mulai mengoyak batinnya. Gito pun berujar, "Saya harus hijrah. Bukan ini tujuan saya dilahirkan ke muka bumi. Tetapi ada tugas lain yang harus saya lakukan sebagai bekal pertemuan dengan Sang Pemilik jiwa ini".

Gito lantas mengalami transisi spritual di luar nalar. Sebuah metamorfosis batin yang banyak dipertanyakan di kalangan rocker. Betapa pun kelamnya masa lalu, sebenarnya hanya menunggu kesempatan untuk mendapatkan cahaya. Itu yang disebut hidayah.

Sifat paradoksal itu kini ia perlihatkan. Dulunya ia bernyanyi dengan suara melengking tinggi, sambil berlarian di panggung konser. Kini ia tampil bersahaja di mimbar dakwah. Kadang duduk bersila di ruang pengajian.

Lirik lagu berganti teriakan bernada hedonis yang menyesatkan, kini berganti menjadi ajakan untuk berbuat kebaikan.

Dulunya ia haus untuk menjadi tontonan. Setelah hijrah ia berubah menjadi tuntunan.

Akhirnya, pada 28 Februari 2008, malam Jumat, Ustad Gito kembali ke Haribaan Ilahi. Lahu Al-Fatihah.

Ternate, 1 Muharram 1448H

Alwi Sagaf Alhadar