Perang kembali menjadi berita utama dunia. Ketegangan di kawasan Timur Tengah, khususnya yang melibatkan Iran dan dinamika keamanan di negara-negara Teluk seperti Uni Emirat Arab, Qatar, Bahrain, dan Kuwait, kembali mengingatkan kita bahwa stabilitas dunia sangat rapuh. Jalur strategis seperti Selat Hormuz menjadi titik sensitif yang mempengaruhi ekonomi global, termasuk harga energi dan bahan kebutuhan pokok.

Lalu, apa hubungannya dengan kita di Maluku Utara? Bukankah perang itu jauh dari sini?

Secara geografis memang jauh. Namun dalam era globalisasi, tidak ada peristiwa besar yang benar-benar jauh. Bisa jadi akan berdampak pada Fluktuasi harga minyak, kenaikan biaya logistik, dan ketidakpastian ekonomi global dapat berimbas hingga ke wilayah kepulauan seperti Provinsi Maluku Utara, termasuk di Kota Ternate. Kita adalah masyarakat maritim yang sangat bergantung pada distribusi laut dan stabilitas ekonomi nasional.

Di balik semua itu, ada satu hal yang patut kita renungkan: kita masih hidup dalam suasana aman. Masjid-masjid di Kota Ternate masih ramai dengan jamaah. Aktivitas pasar, pelabuhan, dan perkantoran tetap berjalan. Kita masih bisa tidur tanpa suara sirene peringatan serangan.

Bukankah itu nikmat besar? Terlebih lagi ketika kita memasuki bulan Ramadhan.

Di Ternate, Ramadhan bukan sekadar pergantian kalender hijriyah. Ia adalah suasana yang terasa hidup. Sejak sore hari, aroma takjil memenuhi sudut-sudut kota. Pedagang musiman menjajakan kolak, pisang goreng, es buah, dan berbagai hidangan khas yang menjadi bagian dari tradisi berbuka. Di antara deretan takjil itu, kita juga menemukan lalampa yang dibakar dengan aroma daun pisang yang khas, kue cucur dengan gula merah yang mengilap, onde-onde kenari yang gurih-manis.

Ada pula kue asida—hidangan manis bertekstur lembut dengan siraman gula rempah—yang jejak sejarahnya dapat ditelusuri pada tradisi kuliner Timur Tengah yang masuk melalui jalur perdagangan rempah. Sejak abad ke-15 dan ke-16, Ternate telah menjadi simpul penting perdagangan global. Di masa Kesultanan Ternate, para pedagang Arab, Gujarat, dan Melayu datang membawa bukan hanya rempah, tetapi juga tradisi, cita rasa, dan nilai-nilai Islam yang kemudian berakulturasi dengan budaya lokal.

Warisan sejarah itu masih terasa hingga kini.

Minuman khas seperti air guraka—jahe hangat bercampur gula aren dan kenari, bukan sekadar penghangat tubuh setelah berbuka. Ia adalah simbol dari identitas kepulauan rempah. Jahe, pala, dan cengkeh bukan hanya komoditas ekonomi, tetapi bagian dari peradaban Ternate yang pernah memikat dunia.

Di bulan Ramadhan, warisan sejarah itu hidup kembali. Aroma lalampa yang dibakar di atas bara seolah mengingatkan kita pada dapur-dapur tradisional yang telah ada sejak ratusan tahun lalu. Kenari yang ditumbuk untuk halua atau bagea bukan sekadar bahan makanan, melainkan pengingat bahwa tanah ini diberkahi dengan kekayaan alam.

Jalanan mungkin padat menjelang magrib, tetapi bukan karena kepanikan—melainkan karena kegembiraan menyambut waktu berbuka. Anak-anak membantu orang tua membawa bungkusan takjil. Para pemuda bercengkerama. Masjid-masjid yang dahulu menjadi pusat dakwah para ulama kembali dipenuhi jamaah tarawih.

Semua itu terjadi dalam suasana aman.

Di sinilah makna syukur menjadi semakin dalam. Kita tidak hanya bersyukur atas makanan yang tersaji, tetapi atas sejarah yang masih bisa kita warisi dalam keadaan damai. Kita bersyukur karena Ramadhan di Ternate tidak dijalani dalam bayang-bayang konflik, melainkan dalam cahaya tradisi, iman, dan kebersamaan.

Di tengah berita perang di berbagai belahan dunia, masyarakat Ternate masih bisa menikmati sahur bersama keluarga, berbuka dengan lalampa dan guraka, lalu melangkah ke masjid tanpa rasa takut. Itu bukan hal kecil. Itu adalah nikmat besar.

Maka syukur di bulan Ramadhan bukan hanya ucapan, tetapi kesadaran sejarah dan spiritual. Kesadaran bahwa kita adalah bagian dari mata rantai panjang peradaban Islam di timur Nusantara—yang diwariskan dalam keadaan damai, dan harus kita jaga agar tetap damai.

Karena boleh jadi, di tempat lain, Ramadhan dijalani dengan suara ledakan. Sementara di Ternate, ia masih diiringi azan, tadarus, dan aroma rempah yang hangat.

Dan itulah nikmat yang tidak boleh kita anggap biasa.

Ketika kita berdiri dalam saf salat tarawih di masjid-masjid Ternate, sesungguhnya kita sedang melanjutkan mata rantai sejarah panjang itu.

Syukur di sini menjadi lebih dari sekadar perasaan pribadi. Ia adalah kesadaran historis. Kita bersyukur karena warisan Islam yang dibawa para pendahulu masih dapat kita jalani dalam suasana damai. Kita bersyukur karena peradaban yang dibangun dengan darah, perjuangan, dan doa itu tidak runtuh oleh konflik zaman.

Ternate pernah menjadi pusat perebutan dunia karena rempahnya. Cengkeh dan pala menjadikan kota ini titik temu bangsa-bangsa. Namun yang membuatnya bertahan bukan hanya kekayaan alam, melainkan kekuatan spiritual dan kebersamaan sosialnya.

Semua itu adalah nikmat besar.

Syukur berarti menjaga warisan itu. Syukur berarti memastikan bahwa sejarah konflik tidak terulang. Syukur berarti merawat toleransi dan persatuan di tengah keberagaman Maluku Utara.

Ramadhan di Ternate bukan hanya ritual tahunan. Ia adalah pertemuan antara sejarah, iman, dan kedamaian. Ia adalah pengingat bahwa di tengah dunia yang bergejolak, kita masih diberi ruang untuk sujud dengan tenang.

Dan mungkin, di situlah cahaya keimanan itu paling terasa—bukan ketika dunia sepenuhnya aman, tetapi ketika kita menyadari betapa berharganya keamanan yang masih kita miliki.

Semoga Maluku Utara tetap damai. Semoga Ternate tetap menjadi kota rempah yang harum oleh iman. Dan semoga kita termasuk hamba-hamba yang benar-benar bersyukur.