Umat Islam merayakan hari raya Idul Fitri dengan suka cita, lantaran pada hari ini mereka telah selesai menunaikan ibadah Puasa di bulan suci Ramadhan.

Di Indonesia kerap kali hari raya kaum Muslimin dimaksud sering disebut dengan hari kemenangan. Menang secara garis besar berarti mereka telah mampu menahan rasa lapar dan haus serta apa saja yang dapat membatalkan puasa, bahkan mampu menghindari hal-hal yang mengurangi pahala puasa.

Kemenangan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti keunggulan; kelebihan karena dapat mengalahkan lawan dan memperoleh hasil. Kemenangan dalam puasa tidak mengalahkan sesuatu yang bersifat fisik yang dapat dijangkau oleh inderawi, melainkan kemenangan batin dan jiwa dari hawa nafsu bagi orang yang telah menunaikan ibadah puasa.

Kemenangan dalam Islam sering dipadankan dengan kata الفوز. Al-‘Askari (w. 395 H) membedakan antara النجاة kata (al-najat) yaitu selamat dengan الفوز(al-fauz) artinya kemenangan; kesuksesan. Kata al-najat bermakna orang yang memperolehnya telah lolos dari sesuatu yang tidak disukai seperti lulus dari ujian masuk sekolah/ perguruan tinggi. Meskipun nanti selama bersekolah atau kuliah orang tersebut kembali memperoleh hal-hal yang tidak disukai lantaran dia harus memaksakan dirinya menyelesaikan tugas-tugasnya. Hal ini berbeda dengan kata kedua; al-fauz yang berarti orang yang telah lolos dari sesuatu yang tidak disukai sekaligus memperoleh apa yang disukai.

Dalam puasa, harus menahan lapar dan haus serta hawa nafsu membuat orang seperti tertekan, membenci, karena tidak memperoleh pemenuhan hasrat manusiawi sementara waktu. Ketika berbuka semua itu seolah terbayar dan tergantikan karena dia telah bebas untuk makan dan minum. Kondisi ini hanyalah bagian sangat teramat kecil dari arti kemenangan sejati bagi mereka yang telah ‘benar-benar’ berpuasa, sebab ganjarannya adalah pahala tak terhingga dan itu dilustrasikan dengan kemenangan.

Nabi suci saw bersaabda, Allah swt berfirman:الصوم ‌لي وأنا أجزي به ....

Artinya: “Puasa itu untuk-Ku, dan Aku yang akan membalas dengannya

Ibn Hajar (w. 852 H) berpendapat yang berhak memperoleh pahala Allah swt yang tidak terbatas adalah orang yang berpuasa dengan keikhlasan khusus. Artinya hari kemenangan sejati bagi mereka yang berpuasa, akan diperoleh bila dia telah mampu meraih ganjaran Allahg swt tersebut. Hal-hal demikian pada dasarnya masih sangat abstrak untuk mengklaim orang tertentu memperoleh kemenangan dalam berpuasa dan lainnya tidak, sebab ukuran keikhlasan tidak terlihat karena letaknya di hati. Walaupun demikian mungkin ada beberapa indikator kalau orang yang berpuasa di hari Idul Fitri berpotensi memperoleh kemenangan sejati, dan hal ini menjadi muhasabah/introspeksi untuk diri sendiri, bukan untuk menunjuk apalagi menuduh orang lain.

Mereka yang berpotensi memperoleh kemenangan di hari Fitri adalah: Pertama, saat berpuasa, telah memenuhi rukun puasa; yaituniat, dan meninggalkan apapun yang membatalkan puasa, dari terbit fajar kedua sampai terbenamnya matahari; kedua, mampu menjaga apapun yang mengurangi pahala puasa di antaranya: menghibah, memfitnah, mengadu domba; ketiga, menunaikan zakat Fitrah.

Benar, zakat bukanlah bagian dari puasa, namun zakat fitrah merupakan kewajiban yang Rasulullah suci saw tetapkan dalam konteks menyucikan bagi orang yang berpuasa dari perkataan sia-sia dan ucapan kotor dan keji (Riwayat Abu Daud); keempat, memaafkan, dalam konteks ini bertingkat-tingkat. Prinsipnya orang bisa memaafkan orang yang bersalah padanya, meskipun yang bersalah tak pernah meminta maaf padanya. Sementara yang memberi maaf dapat menjaga jarak dengan orang yang pernah menyakitinya tanpa menyimpan dendam.

 wa Allāhu a’lam bi al-awāb ...