Menjelang Ramadan, suasana religius semakin terasa. Masjid mulai ramai, target khatam Al-Qur’an disusun, sedekah ditingkatkan, dan semangat ibadah menggema hingga ke ruang-ruang digital. Media sosial dipenuhi kutipan ayat, dokumentasi kajian, hingga laporan kegiatan berbagi. Semua itu adalah kebaikan. Namun di balik semangat tersebut, tersimpan tantangan besar: di era digital, amal saleh sangat mudah terlihat dan karena itu, sangat mudah pula tergelincir ke dalam kesombongan spiritual.

Islam tidak hanya menilai banyaknya amal, tetapi juga keadaan hati yang menyertainya. Dalam khazanah tasawuf dikenal penyakit hati seperti riya’ (pamer ibadah), ‘ujub (bangga diri), dan kibr (kesombongan). Di dunia digital, godaan ini semakin halus. Amal yang semula pribadi bisa berubah menjadi konsumsi publik. Niat yang awalnya tulus bisa tercampur keinginan untuk diakui, diapresiasi, atau diviralkan.

Allah SWT memperingatkan di dalam (QS. Al Ma’un: 4–6) yang artinya:

“Maka celakalah orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai terhadap shalatnya, yang berbuat riya’.”

Ayat ini menegaskan bahwa bahkan shalat pun dapat tercemar jika orientasinya bergeser. Berkaitan hal tersebut, Rasulullah juga bersabda:

“Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan atas kalian adalah syirik kecil.” Ketika ditanya apa itu, beliau menjawab: “Riya’.” (HR. Ahmad)

Di era media sosial, riya’ tidak selalu berbentuk kesombongan terang-terangan. Ia bisa hadir dalam bentuk unggahan amal yang disertai harapan pujian, atau kekecewaan ketika tidak mendapat respons sebagaimana diharapkan. Di sinilah muhasabah menjadi sangat penting.

Namun dunia digital bukan semata ancaman. Ia juga peluang besar untuk kebaikan. Teknologi memungkinkan dakwah menjangkau lebih luas, ilmu tersebar lebih cepat, dan sedekah terkumpul lebih mudah. Kajian bisa diakses dari rumah, Al-Qur’an tersedia dalam genggaman, dan gerakan sosial dapat digerakkan hanya dengan satu klik. Jika diniatkan dengan benar, ruang digital bisa menjadi ladang pahala yang luas.

Kuncinya adalah kesadaran bahwa semua kemampuan itu adalah karunia Allah SWT. Allah SWT berfirman:

“Maka janganlah kamu memuji dirimu sendiri. Dia lebih mengetahui siapa yang bertakwa.” (QS. An-Najm: 32)

Dan juga:

“Kalau bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepadamu, niscaya tidak seorang pun di antara kamu bersih (dari perbuatan keji dan mungkar) selama-lamanya.” (QS. An-Nur: 21).

Ramadan adalah bulan “tazkiyatun nafs” yakni bulan penyucian jiwa. Puasa melatih kita menahan diri, termasuk menahan dorongan untuk selalu terlihat. Dalam hal ini Rasulullah bersabda:

“Barangsiapa berpuasa Ramadan dengan iman dan mengharapkan pahala, diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

“Dengan iman dan mengharap pahala” menunjukkan bahwa inti ibadah adalah orientasi batin. Di tengah budaya digital yang serba terbuka, Ramadan mengajarkan kembali nilai keheningan, keikhlasan, dan hubungan pribadi dengan Allah SWT.

Maka, tantangan modern bukanlah meninggalkan dunia digital, melainkan mengelolanya dengan kesadaran spiritual. Gunakan media sosial untuk menyebarkan kebaikan, tetapi jangan menjadikannya ukuran kemuliaan. Bagikan ilmu, tetapi jaga niat. Berbagi inspirasi, tetapi tetap rendahkan hati.

Menjelang Ramadan, pertanyaan terpenting bukanlah seberapa aktif kita di dunia nyata maupun maya, melainkan: untuk siapa semua ini kita lakukan? Karena pada akhirnya, bukan banyaknya amal, baik yang terlihat maupun tersembunyi yang menyelamatkan kita, melainkan rahmat Allah yang turun kepada hati yang ikhlas dan tawadhu’. Semoga Ramadan kali ini menjadikan kita bukan hanya lebih produktif dalam kebaikan, tetapi juga lebih bersih dalam niat, bahkan di tengah gemerlap dunia digital.

“Amal yang paling indah adalah yang tidak ramai di linimasa, tetapi gemuruh di langit”

- Agussalim -