Turunnya al-Qur’an (nuzul al-Qur’an) di bulan Ramadhan pertama kali menurut riwayat adalah ayat-ayat pertama dari surah al-‘Alaq sebagai berikut:
ٱقۡرَأۡ بِٱسۡمِ رَبِّكَ ٱلَّذِي خَلَقَ ١ خَلَقَ ٱلۡإِنسَٰنَ مِنۡ عَلَقٍ ٢ ٱقۡرَأۡ وَرَبُّكَ ٱلۡأَكۡرَمُ ٣ ٱلَّذِي عَلَّمَ بِٱلۡقَلَمِ ٤ عَلَّمَ ٱلۡإِنسَٰنَ مَا لَمۡ يَعۡلَمۡ
Artinya: “bacalah! dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang telah menciptakan (1) Dia menciptakanmanusia dari segumpal darah (2) bacalah! dan Tuhanmulah yang maha Mulia (3) Yang mengajarkan (pada manusia) dengan qalam (4) Dia mengajarkan manusia apa yang tidak manusia ketahui (5)
Rentetan lima ayat dari surah tersebut merupakan ayat al-Qur’an yang pertama kali turun beradasarkan hadis bersumber dari Ibn ‘Abbas yang dimuat oleh Ibn al-Dhurais (w. 294 H) dan al-Wahidi (w. 468 H).
Ayat-ayat tersebut memberikan pemahaman tentang siapa yang menciptakan manusia, asal-susul mereka dari apa diciptakan dan proses pengajaran Allah swt kepada mereka. Pertanyaannya, mengapa ayat-ayat ini yang dipilih untuk menjadi awal mula dari misi kenabian dan kerasulan Nabi suci Muhammad saw? Dengan melihat kandungan ayat-ayat tersebut setidaknya ada 3 hikmah yang terkandung dalam turunnya ayat tersebut di kali pertama al-Qur’an diwahyukan.
Pertama, kesadaran akan adanya Pencipta. Ayat pertama dengan tegas memproklamirkan bahwa Allahlah pencipta manusia. Dengan kekuasaan dan kehendak serta keinginan-Nya, Allah swt ingin agar manusia mengerti dengan sebenar-benarnya bahwa dia hadir di muka bumi bukan begitu saja, melainkan ada Zat yang Esa, berkuasa untuk menciptakan manusia yang semula dari tiada menjadi ada. Agar mereka memahami eksistensi keberadaannya di bumi. Ayat pertama memberikan caranya yaitu dengan membaca. Bacaan apa saja selama menyelaminya dengan kesadaran akan kehadiran Allah swt maka hasil bacaan itu yang akan melahirkan ilmu, aneka teori pengetahuan yang akan digunakan untuk kebaikan manusia, bukan untuk lainnya.
Kedua, kesadaran akan asal penciptaan. Ayat kedua dari surah al-‘Alaq, Allah swt menggugah manusia tentang asal mula penciptaan mereka dari segumpal darah. Kondisi ini terjadi setelah fertilisasi; proses peleburan sel sperma dengan ovum yang berpotensi membentuk zigot lalu berkembang menjadi embrio. Pengetahuan tentang proses tersebut idealnya menjadikan manusia sadar kalau dirinya bukanlah apa-apa karena mereka hanyalah segumpal darah dari proses tadi, yang karena kemurahan Allah swt maka proses itu berlanjut sampai lahir dan menjadi manusia dengan fisik yang lengkap.
Kata ‘alaq dalam ayat ini memang berarti segumpal darah, namun dari asal katanya علق artinya bergantung merujuk bahwa manusia hidup tidak bisa sendiri, namun bergantung kepada sesamanya, bahkan sejak awal prsosesnya mereka bergantung di rahim ibunya. Ketergantungan manusia kepada sesamanya tentu kepada hal-hal yang baik dan untuk kebaikan/kemaslahatan bersama, bukan bergantung untuk dijajah, disepelekan dan semisalnya. Kergantungan kepada sesama karena manusia adalah makhluk sosial, maka ketergantungan kepada pencipta-Nya lebih utama untuk diprioritaskan.
Ketiga, kesadaran untuk menuntut ilmu dari Penciptanya. Ayat 4-5 mengajak manusia menyadari sumber awal pengetahuan dari Allah swt. Proses pengajaran yang diberikan kepada manusia melalui berbagai potensi misalnya akal, indera dan hati sebagai sarana untuk memperoleh pengetahuan. Dalam ayat ini secara khusus disebutkan al-qalam (pena) sebagai medianya. Al-Razi (w. 606 H) menyatakan kata القلمadalah kinayah yang merujuk pada arti menulis atau Allah mengajarkan manusia menulis dengan pena. Posisi pena dapat menggantikan lidah, sebaliknya lidah tidak dapat menggantikan pena.
Konteksnya dalam perkembangan ilmu pengetahuan, menulis akan lebih lama, dan dapat dimanfaatkan berulng kali meskipun penulisnya telah tiada. Bahkan tulisan akan terus dipelajari dan berpotensi melahirkan teori baru dari ilmu pengetahuan. Keterkaitan ayat 4 dengan 5 yaitu menulis sebagai bentuk ilmu kasbi menjadikan manusia akan berfikir sehingga kemunculan ide menjadi salah satu media Allah mengajarkan mereka apa yang mereka tidak ketahui. Selain dari ilmu wahbi (pemberian langsung; ilham) dari Allah swt kepada sebagian mereka yang dipilih.
wa Allāhu a‘lam bi al-shawāb ...