Kita hidup di zaman
ketika kelelahan tersenyum menjadi kebiasaan, dan kegagalan dianggap aib yang
harus segera ditutupi dengan motivasi baru. Dunia hari ini dipenuhi slogan
seperti “never give up,” “stay positive,” dan “hustle harder.” Di
media sosial, wajah-wajah cerah dan kata-kata penuh semangat mendominasi layar
kita, seolah-olah setiap manusia harus selalu kuat, produktif, dan bahagia.
Namun di balik semangat itu, banyak jiwa yang sebenarnya rapuh serta tercekik
oleh tuntutan untuk selalu tampak berhasil.
Fenomena ini dikenal
sebagai Hustle Culture: sebuah sistem nilai modern yang menuhankan
produktivitas. Dalam budaya ini, waktu yang tidak “bermanfaat” dianggap
sia-sia, dan manusia diukur bukan dari kedalaman jiwanya, melainkan dari
seberapa banyak hal yang bisa ia capai. Dalam Hustle Culture, istirahat
sering dianggap malas, kegagalan dipandang memalukan, dan kesedihan dianggap
bentuk kelemahan. Akibatnya, banyak orang hidup dalam tekanan eksistensial yang
terselubung di balik citra kesuksesan digital.
Padahal, jika ditilik
dari sisi psikologis, kegagalan bukanlah kebalikan dari kesuksesan, melainkan
bagian dari proses kemanusiaan itu sendiri. Menurut penelitian oleh Brene Brown
(2012) dalam bukunya Daring Greatly, keberanian sejati lahir dari
kerentanan (vulnerability). Ia menulis bahwa manusia hanya bisa hidup
utuh jika berani mengakui rasa takut, malu, dan gagal tanpa menyembunyikannya
di balik topeng “positif palsu”. Dalam konteks ini, kegagalan bukan musuh yang
harus dilawan, melainkan guru yang harus didengarkan.
Namun masyarakat modern
mengajarkan kita hal sebaliknya: bahwa perasaan negatif harus ditekan dan
disembunyikan. Toxic positivity merupakan sebuah istilah dalam psikologi
modern yang menggambarkan kondisi ketika seseorang terlalu menekankan pikiran
positif hingga menolak realitas emosional yang menyakitkan. Alih-alih
menyembuhkan, hal ini justru membuat manusia semakin jauh dari diri sendiri.
Seperti kata Carl Jung, “What you resist, persists.” Apa yang terus kita
tolak, justru akan terus menghantui.
Dalam tradisi
spiritual, terutama dalam pandangan Islam, kegagalan bukan kehinaan, melainkan
ruang pertemuan antara manusia dan Tuhannya. Dalam setiap keterpurukan, manusia
disadarkan akan keterbatasannya dan kembali mengakui bahwa segala sesuatu
bergantung pada kehendak Allah. Kegagalan mengajarkan tawakkal, percaya setelah berusaha, dan tenang
setelah kecewa. Di titik inilah kegagalan menjadi oase ketenangan: ketika
manusia berhenti berpura-pura kuat dan mulai berdamai dengan dirinya sendiri.
Kegagalan juga memiliki nilai sosial yang mendalam. Dalam masyarakat yang
terlalu sibuk menonjolkan keberhasilan, keberanian untuk mengakui kegagalan
justru bisa menjadi tindakan moral yang membebaskan. Ia membuka ruang empati.
Ketika seseorang berkata, “Aku juga pernah gagal,” maka ia sedang
menciptakan jembatan antarjiwa yakni ruang di mana manusia bisa saling memahami
tanpa syarat. Seperti dikemukakan psikolog sosial Kristin Neff (2011) dalam
konsep self-compassion, kemampuan untuk menerima diri dengan lembut di
tengah kegagalan adalah kunci kesehatan mental yang berkelanjutan.
Paradoksnya, justru ketika kita berhenti memaksa diri untuk selalu sukses,
kita menemukan kekuatan yang paling sejati: ketenangan. Dalam diamnya pengakuan
atas kegagalan, lahirlah kesadaran baru bahwa nilai manusia tidak ditentukan
oleh pencapaiannya, melainkan oleh kemampuannya untuk terus tumbuh, belajar,
dan memaafkan dirinya sendiri. Di sinilah letak kemerdekaan batin yang
sesungguhnya yang mana merupakan sebuah pembebasan dari jerat ekspektasi sosial
yang menyesakkan.
Kita hidup di dunia yang sibuk memamerkan keberhasilan, namun mungkin yang paling kita butuhkan adalah ruang untuk mengatakan, “Aku gagal, dan itu tidak apa-apa.”. Karena justru di titik kegagalan itulah, kejujuran, kerendahan hati, dan kedekatan spiritual menemukan bentuk paling murninya. Kegagalan tidak lagi menjadi aib, melainkan tanda bahwa kita benar-benar hidup dan sedang belajar menjadi manusia yang utuh.
“Mengakui
kegagalan bukan tanda kelemahan, melainkan keberanian untuk berhenti berperang
dengan diri sendiri.”
_Agussalim_