“Allahumma barik lana fi Rajab wa Sya’ban wa ballighna Ramadan.” Dulu, doa ini akrab terdengar di tempat ibadah, baik di Mushola maupun Masjid-masjid baik itu kecil maupun besar selepas magrib. Imam tua melantunkannya dengan suara lembut, anak-anak berlarian di halaman masjid, dan para jamaah menunduk khusyuk dalam keteduhan. Kini, doa itu lebih sering muncul di media sosial dalam bentuk unggahan digital yang dihiasi langit senja, kaligrafi modern, dan musik latar menenangkan. Tradisi yang dulu hidup di ruang kebersamaan kini berpindah ke layar, menjadi simbol visual dari sesuatu yang perlahan memudar.

 

Perubahan ini mencerminkan sesuatu yang lebih besar: bagaimana masyarakat Muslim mengalami pergeseran cara beragama dan berbudaya di tengah derasnya arus digital. Dari Rajab hingga Ramadan, banyak amaliyah yang dulu menjadi bagian dari denyut kehidupan kini tinggal dalam kenangan sebagian kecil orang, keluarga, dan komunitas. Hanya dalam keluarga Habaib, Keluarga pesantren, jamaah thariqah, atau kelompok tradisional keagamaan yang masih menjaga warisan itu, sementara sebagian besar masyarakat modern melewatinya tanpa kesadaran penuh.

 

Rajab dikenal sebagai salah satu dari empat bulan haram yang dimuliakan dalam Islam. Di masa lalu, kedatangannya disambut dengan doa bersama, pembacaan Shalawat, dan majelis istighfar di masjid-masjid kecil maupun besar. Namun di banyak tempat, kegiatan itu kini hilang. Masjid semakin sepi, sementara notifikasi ponsel terus berbunyi. Aktivitas spiritual yang dulu menjadi rutinitas kini tergeser oleh ritme hidup modern. Hanya di keluarga tertentu, pesantren atau komunitas nahdliyin dan jamaah tarekat amaliyah Rajab masih dihidupkan, disertai pesan lembut: Rajab adalah waktu untuk berhenti sejenak, menata hati, dan membersihkan niat sebelum memasuki Ramadan.

 

Setelah Rajab datang Sya’ban, bulan yang dalam tradisi Islam menjadi masa persiapan dan doa. Dulu, malam Nisfu Sya’ban adalah momen istimewa. Keluarga berkumpul, membaca Surah Yasin tiga kali, berdoa untuk orang tua yang telah tiada, dan menyalakan lampu-lampu kecil di halaman rumah. Kini, tradisi itu perlahan memudar. Di banyak kota besar, hanya ditemukan dalam keluarga Habaib, jamaah majelis taklim tertentu, keluarga santri, dan komunitas pesantren yang masih mempertahankannya. Di luar lingkaran itu, malam Nisfu Sya’ban lebih sering lewat begitu saja, kadang hanya dikenang lewat unggahan “Selamat malam Nisfu Sya’ban” di media sosial.

 

Fenomena ini memperlihatkan perubahan cara manusia beragama di era digital. Spiritualitas yang dulu dijalankan secara kolektif kini menjadi personal, bahkan simbolik. Doa lebih sering dibagikan ketimbang dilantunkan bersama. Menjelang Ramadan, media sosial justru semakin ramai. Tren Ramadan aesthetic muncul di TikTok, Facebook, dan Instagram, dari resep takjil viral hingga dekorasi rumah bernuansa islami. Tak ada yang salah dengan itu, tetapi sering kali nuansa spiritual tergantikan oleh simbol visual. Tradisi berubah menjadi konten.

 

Dulu, seminggu menjelang Ramadan, masyarakat menyambutnya dengan tarhib Ramadan: pawai obor, rebana, dan takbir yang menggema di jalanan kampung. Anak-anak membawa obor kecil, remaja menabuh bedug, dan seluruh desa bersuka cita menyambut bulan suci. Kini, tarhib Ramadan bergeser ke ruang digital, memang ada namun hanya segelintir komunitas saja. Poster bertuliskan “Marhaban ya Ramadan” memenuhi lini masa, dan semangat kebersamaan berubah menjadi aktivitas virtual. Di beberapa daerah yang masih mengenang aktivitas ini, mereka melakukannya, namun rata-rata di wilayah Kota Ternate masih melakukannya di setiap tahun.

 

Sosiolog agama menyebut fenomena ini sebagai spiritualitas digital, bentuk keberagamaan baru yang tumbuh di ruang maya. Di satu sisi, dunia digital membuka akses dakwah seluas-luasnya; di sisi lain, ia membuat kesalehan menjadi konsumsi visual. Agama kini tak lagi hadir dalam bentuk ritual kolektif, melainkan lewat algoritma personal. Ibadah disesuaikan dengan waktu kerja, kajian dikonsumsi lewat podcast, dan doa menjadi kutipan singkat di feed.

 

Namun, agama tidak menolak perubahan. Dunia digital hanyalah alat. Yang penting adalah kesadaran di balik penggunaannya. Membaca doa Rajab lewat ponsel tetap bermakna selama dilakukan dengan kehadiran hati. Mengikuti kajian daring sama bernilainya dengan hadir di majelis, jika niatnya tulus. Rajab, Sya’ban, dan Ramadan tetap menjadi tiga fase penyucian jiwa: Rajab mengajak kita bertobat dan menenangkan diri, Sya’ban melatih keikhlasan dan doa, dan Ramadan menyempurnakan keduanya dengan ibadah yang sungguh-sungguh.

 

Sayangnya, rangkaian amaliyah yang mengiringi ketiga bulan ini kini banyak bertahan hanya di komunitas tertentu. Mereka menjadi penjaga “ingatan spiritual” di tengah masyarakat yang makin tergesa-gesa. Namun nilai-nilai itu tak harus lenyap. Tradisi bisa hidup kembali dalam bentuk baru, doa Rajab dibaca dalam pertemuan daring, malam Nisfu Sya’ban diperingati dengan refleksi keluarga, tarhib Ramadan dihidupkan lewat konten edukatif dan narasi yang menenangkan. Yang penting bukan bentuknya, melainkan semangat dan maknanya.


Setiap generasi memiliki caranya sendiri untuk beribadah. Dunia digital adalah bahasa spiritualitas masa kini. Tantangannya bukan mempertahankan bentuk lama, tetapi memastikan nilai lama tetap hidup dalam bentuk baru. Rajab, Sya’ban, dan Ramadan bukan hanya penanda waktu, tetapi perjalanan batin: dari pembersihan, menuju persiapan, hingga penyucian diri. Di tengah arus dunia yang cepat, tiga bulan ini mengingatkan kita untuk melambat, hadir, dan benar-benar merasakan ibadah.

“Mungkin kita tak lagi menyalakan obor di jalanan, tapi kita masih bisa menyalakan cahaya dalam diri, cahaya yang menuntun agar makna Rajab, Sya`ban, dan menuju Ramadhan tidak padam, meski zaman berubah” 
_Agussalim_