Di era āemas digitalā, manusia tampak lebih bebas dari sebelumnya. Semua
bisa diakses lewat layar: belanja, belajar, bekerja, hingga mencari pasangan.
Teknologi dianggap membawa kemerdekaan dalam memilih dan berekspresi. Namun,
apakah kita benar-benar bebas, atau justru hidup dalam bentuk baru dari
pengendalian?
Shoshana Zuboff (2019) dalam The Age of Surveillance Capitalism
menjelaskan bahwa kekuasaan kini beralih dari negara ke perusahaan teknologi
yang menguasai data. Setiap klik dan pencarian menjadi bahan bakar sistem yang
memprediksi serta memengaruhi perilaku manusia. Kita bukan lagi pengguna,
melainkan produk. Data pribadi dijadikan
komoditas untuk kepentingan iklan dan algoritma yang mengatur apa yang kita
lihat dan pikirkan.
Michel Foucault pernah menyebut kekuasaan yang bekerja tanpa paksaan,
membentuk perilaku melalui pengawasan halus. Dalam dunia digital, kekuasaan itu
diambil alih oleh algoritma. Ia tidak memerintah, tapi perlahan mengarahkan
preferensi kita. Dari rekomendasi belanja hingga konten media sosial, semua
telah dikurasi oleh sistem. Dalam ilusi kebebasan memilih, kita sesungguhnya
hanya memilih dari apa yang telah ditentukan.
Nick Couldry dan Ulises Mejias (2019) menyebutnya data colonialism yang
mana berbentuk kolonialisme baru yang mengekstraksi data manusia layaknya
sumber daya alam. Jika dulu tanah dan tenaga
dijajah, kini perhatian dan perilaku kita yang dikuasai. Platform digital
menjadi kekuatan kolonial modern tanpa batas, sementara pengguna merasa bebas
padahal sedang dilayani untuk dikendalikan.
Kita tampak merdeka untuk berbicara dan berkreasi, tapi kemerdekaan itu
bersyarat: setiap tindakan dilacak, setiap kata direkam. Manusia kini rela
menukar privasi demi kemudahan, tanpa sadar kehilangan kendali atas dirinya.
Dalam masyarakat yang bergantung pada sistem digital, kebebasan berubah menjadi
paradoks: kita merasa otonom, padahal tunduk pada logika pasar dan algoritma.
Menyadari ilusi ini bukan berarti menolak teknologi, melainkan menuntut
kedaulatan digital untuk hak atas data, transparansi algoritma, dan
perlindungan pengguna. Kemerdekaan digital tidak datang begitu saja, ia harus
diperjuangkan. Dunia digital memang menawarkan kemudahan, tapi juga membawa
bentuk baru dari kontrol. Pertanyaannya kini bukan lagi seberapa sering kita
online, melainkan siapa yang sesungguhnya memegang kendali.
Algoritma tidak pernah memaksa, tapi perlahan
mengarahkan. Itulah kekuasaan paling halus dan paling berbahaya di zaman
modern.
_Agussalim_